An Se-young: Lionel Messi-nya Dunia Bulutangkis
by: lukman hamarong
Dalam dunia bal-balan atau sepak bola, kita tentu sepakat bahwa Lionel Messi adalah sebuah anomali. Ia tidak berbadan besar, jarang berlari sepanjang pertandingan, dan bukan tipe pemain yang mengandalkan kekuatan otot yang kekar. Badannya memang kecil. Namun, saat bola berada di kakinya, dunia seolah melambat, karena Messi bermain dengan otak, visi, dan presisi.
Jika Anda mencari padanan genius seperti itu di atas lapangan karpet hijau bulutangkis, maka saya memilih nama An Se-young. Pebulutangkis asal Korea Selatan ini seolah tak punya lawan di nomor tunggal putri. Berbagai gelar telah ia persembahkan. Hanya tersisa satu gelar yang belum ia punya, yaitu Piala Sudirman. Uber Cup sudah, gelar juara super series WBF tour apalagi.
Deretan gelar juara yang diraih pemain mungil ini makin membuat mata dunia tertuju padanya. Bagi mata awam yang menyukai laga penuh smash menggelegar atau permainan cepat yang meledak-ledak, gaya main An Se-young mungkin tidak langsung membuat terperangah. Ia tidak memiliki pukulan secepat Chen Yu Fei atau kecepatan murni yang se-eksplosif Wang Zhi Yi.
Namun, jangan salah, di situlah letak sihir dari pemain ini. An Se-young adalah definisi mutlak dari ungkapan: “Work smarter, not harder”. Ia menolak untuk takluk, apalagi tunduk dari pemain yang memiliki keunggukan fisik. Alih-alih meratapi ketiadaan smash keras yang menghunjam bumi, ia justru membangun benteng pertahanan, strategi, dan teknik yang mustahil diruntuhkan.
An Se-young adalah seorang maestro taktik. Kelebihannya bukan pada seberapa keras ia memukul kok (bola bulutangkis), melainkan ke mana kok itu ia arahkan. An Se Young (ASY) memiliki akurasi dan presisi yang begitu menawan. Ia bisa menempatkan bola di sudut-sudut paling mustahil yang membuat lawannya frustrasi. Dan yang terbaru, Chen Yu Fei sukses ia hentikan di semifinal.
Di saat lawan terlihat di atas angin, dan sukses merepotkan ASY, kita jangan dulu menyerah. Lihat ASY sampai permainan benar-benar berakhir. Hal ini ia perlihatkan saat ASY menekuk Chen Yu Fei, rival terberatnya asal China, di turnamen Singapura Open sesaat yang lalu. Kalah pada gim pertama, dan kerepotan di gim kedua, tetapi dengan semangat luar biasa, ASY sukses ke final.
ASY adalah pemain kaya taktik, serta mampu membaca arah permainan lawan, seperti membaca buku anak-anak. Setiap langkahnya efisien. Setiap pengembaliannya merupakan jebakan yang disiapkan untuk tiga pukulan berikutnya. Ia tak perlu satu pukulan untuk “membunuh” lawan. Ia “membunuhmu” perlahan dengan mengejar bola ke 4 sudut lapangan sampai napasmu habis.
Selain otaknya encer, modal utama sang Ratu Bulutangkis ini adalah daya tahan (endurance) yang berada di level “alien”. Menonton An Se-young bertanding kita seperti melihat sebuah mesin yang menolak untuk lelah. Apalagi menyerah dan kalah. An Se-young bukan tipe pemain yang mudah lelah. Hal itu ia buktikan sepanjang laga kontra Chen Yu Fei yang fisiknya jauh lebih “perkasa”.
An Se-young memang sempat terlihat lelah dan meminta sedikit waktu kepada juri untuk “rehat” sejenak. Sepertinya ada masalah di tubuhnya. Namun, menyerah kalah sebelum laga berakhir bukan tipe ASY. Ketahanan fisik luar biasa ini yang membuat ASY acapkali membuat penonton seolah tak percaya ada pemain yang memiliki ketahanan fisik dan mental yang mengerikan.
An Se-young mengubah permainan bulutangkis dari adu kekuatan fisik menjadi permainan catur tingkat tinggi. Dalam permainan catur, pemain yang menggunakan otak akan selalu keluar sebagai pemenang. Benar saja! An Se-young berkali-kali menciptakan keajaiban di atas lapangan. Berkali-kali lawannya dibuat tak berdaya. Hal itu dibuktikan dengan gelar, gelar, dan gelar buat ASY.
Ya, gelar ASY yang berbicara. Sangat pantas jika dirinya berkali-kali berdiri di podium tertinggi, merengkuh gelar demi gelar prestisius , dan mengunci takhta nomor satu dunia. Setiap tahunnya. Keberhasilannya ini bukan hasil dari keberuntungan, melainkan buah dari kecerdasan taktis yang dipadukan dengan disiplin fisik yang luar biasa. Sekali lagi, An Se-young mampu membuktikan.
Membuktikan apa? Bahwa untuk menguasai dunia, dia tidak perlu menjadi yang paling kuat. ASY hanya perlu menjadi paling cerdas. Di era modern di mana bulutangkis menuntut kecepatan dan kekuatan fisik yang menguras tenaga, An Se-young datang membawa romansa baru: bahwa seni, otak, presisi, dan endurance masih menjadi kasta tertinggi di atas lapangan olahraga. (*)
