Yamal Enggan “Beramal”: Sisi Egois Reinkarnasi Messi

0
IMG-20260706-WA0257.jpg

Spanyol baru saja memastikan diri melangkah ke babak 16 besar Piala Dunia 2026 usai melumat Austria dengan skor telak, 3-0.

Ini merupakan performa sempurna La Furia Roja yang tampil sangat dominan, sehingga tiket fase gugur sudah di tangan, dunia pun berdecak kagum.

Namun, di balik pesta tiga gol tersebut, ada satu nama yang paling menyita perhatian sekaligus memicu batin saya, yakni performa Lamine Yamal.

Sepanjang laga, Yamal berhasil menunjukkan siapa ia sebenarnya, sehingga mengapa ia acapkali disebut-sebut sebagai talenta terbesar yang dimiliki Spanyol saat ini.

Di usia yang masih sangat muda, ia bermain tanpa rasa takut. Berkali-kali ia melakukan penetrasi mematikan, menusuk langsung ke jantung pertahanan Austria.

Tidak hanya soal penetrasi, Yamal juga lihai menari-nari dengan liukan indah yang membuat para bek lawan tampak seperti menari kaku di bawah kendalinya.

“Sihir” Yamal itu nyata, dan magisnya tak terbantahkan. Namun, di balik keindahan tariannya itu, muncul sebuah catatan merah, yakni Yamal malam itu enggan “beramal”.

Istilah “beramal” yang saya sematkan ke Lamine Yamal adalah tentang distribusi, visi bermain, dan kerelaan dan ketulusan melepaskan ego demi kepentingan tim.

Sayangnya, dalam beberapa momen krusial saat laga kontra Austria tersebut, Yamal yang disebut-sebut sebagi reinkarnasi Messi seolah buta oleh ambisinya sendiri.

Ia memang berhasil mengobrak-abrik pertahanan lawan dan berhasil menarik dua-tiga pemain bertahan Austria demi menciptakan ruang kosong bagi rekan-rekannya.

Namun, di saat rekan-rekannya sudah berdiri bebas dalam posisi open-goal, ia justru memilih melepas tembakan atau memaksakan dribel yang akhirnya patah.

Keegoisan Yamal memang hal lumrah bagi penyerang sayap muda yang lapar akan pembuktian. Namun, di panggung sebesar Piala Dunia, satu keputusan salah dapat menjadi pembeda antara mengangkat trofi atau pulang dengan air mata.

Nah, dalam dua hari ke depan, Spanyol akan melakoni partai yang cukup berat di babak 16 besar. Portugal akan menjadi ajang pembuktian Yamal untuk mau “beramal”.

Karena laga di fase gugur ibarat sebuah pertempuran mempertaruhkan antara memperpanjang napas (hidup) atau mengakhiri hidup dengan bunuh diri alias mati.

Lamine Yamal adalah jantung yang bisa membuat permainan Spanyol tetap bisa hidup lebih lama. Sehingga di pundak dia, kehidupan Spanyol dipertaruhkan. Lanjut atau berhenti. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *