Laga Malut United vs PSM Ricuh, Wasit FIFA Diserang dan Wartawan Diduga Diintimidasi

0
Capture

TERNATE – Pertandingan dramatis antara Malut United menghadapi PSM Makassar pada pekan ke-25 Super League yang digelar di Stadion Gelora Kie Raha, Ternate, Sabtu (7/3) malam, tidak hanya menyuguhkan hujan gol, tetapi juga diwarnai sejumlah insiden di luar lapangan.

Laga yang berakhir imbang 3-3 tersebut memicu ketegangan setelah peluit panjang dibunyikan. Sejumlah kejadian kontroversial terjadi, mulai dari dugaan penyerangan terhadap wasit hingga laporan intimidasi terhadap wartawan yang sedang melakukan peliputan.

Wasit berlisensi FIFA, Thoriq Alkatiri, yang memimpin jalannya pertandingan disebut menjadi sasaran amarah oknum suporter. Dalam rekaman video yang beredar luas di media sosial, terlihat Thoriq mendapatkan serangan fisik usai pertandingan berakhir.

Kemarahan suporter diduga dipicu keputusan sang pengadil lapangan yang menganulir gol Malut United pada masa tambahan waktu. Gol yang dicetak David da Silva tersebut dibatalkan setelah Thoriq melakukan peninjauan melalui VAR dan menilai terjadi pelanggaran sebelum bola masuk ke gawang.

Keputusan tersebut memicu protes keras dari sebagian pendukung tuan rumah yang merasa dirugikan.

Di tengah situasi yang memanas, muncul pula laporan dugaan intimidasi terhadap sejumlah jurnalis yang tengah meliput jalannya pertandingan.

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Ternate, Ramlan Harun, mengecam tindakan tersebut dan menilai kejadian itu telah mengganggu kerja jurnalistik yang dilindungi undang-undang.

Menurut Ramlan, para wartawan yang meliput pertandingan tersebut telah terdaftar secara resmi dan memiliki kartu identitas peliputan dari penyelenggara kompetisi.

Ia menegaskan bahwa aktivitas jurnalistik memiliki landasan hukum yang jelas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, sehingga segala bentuk upaya menghalangi kerja wartawan tidak dapat dibenarkan.

“Setiap tindakan yang menghambat tugas wartawan merupakan pelanggaran terhadap kebebasan pers dan dapat dikenakan sanksi pidana sesuai UU Pers,” ujar Ramlan.

PWI Ternate juga menyoroti adanya dugaan tekanan terhadap wartawan untuk menghapus dokumentasi berupa foto maupun video yang berkaitan dengan insiden di stadion.

Salah satu jurnalis Radio Republik Indonesia (RRI) Ternate, Irwan, mengaku diminta menghapus rekaman video yang memperlihatkan situasi usai pertandingan, termasuk momen perjalanan perangkat pertandingan keluar lapangan.

Ia menyebut permintaan tersebut datang dari seseorang yang diduga bagian dari ofisial tim Malut United.

Tidak hanya itu, oknum tersebut juga disebut meminta petugas steward stadion untuk mengeluarkan wartawan dari tribun, meskipun mereka telah menggunakan kartu identitas resmi peliputan.

Situasi serupa juga dialami pimpinan media Halmahera Post, Firjal Usdek. Ia mengaku turut diminta meninggalkan area tribun saat mencoba memprotes tindakan intimidasi tersebut.

Menurut Firjal, para jurnalis berada di lokasi yang masih sesuai dengan aturan karena telah mengantongi ID Card resmi dari penyelenggara liga.

“Kami berada di tribun dengan identitas lengkap dan menjalankan tugas peliputan sebagaimana mestinya,” ujarnya.

Ia menilai tindakan yang meminta wartawan menghapus dokumentasi merupakan bentuk intervensi terhadap kebebasan pers yang dijamin undang-undang.

Hingga kini, pihak Malut United belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan intimidasi terhadap wartawan maupun insiden yang melibatkan perangkat pertandingan setelah laga tersebut.

Pertandingan yang seharusnya menjadi tontonan menarik bagi pecinta sepak bola justru meninggalkan catatan kontroversial yang kini menjadi sorotan publik di media sosial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *