Kakanwil KemenHAM Jabar: Pendidikan Pancawaluya Harus Menjunjung Tinggi HAM

0
IMG-20260206-WA0244-1536x1152.jpg

Kuningan, Jawa Barat – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hak Asasi Manusia (KemenHAM) Jawa Barat, Hasbullah Fudail, menegaskan bahwa implementasi pendidikan karakter berbasis Pancawaluya harus selaras dengan prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia (HAM) yang menjunjung tinggi martabat setiap individu.


Hal tersebut disampaikan Hasbullah saat berdialog dengan guru dan siswa dalam kegiatan Dialog Pendidikan Pancawaluya dan Penguatan Hak Asasi Manusia di SMAN 1 dan SMAN 2 Kuningan, Jumat (6/2/2026). Kegiatan ini diikuti sebanyak 840 siswa sekolah menengah atas.


Menurutnya, nilai-nilai Pancawaluya yang menekankan keseimbangan kecerdasan intelektual, emosional, sosial, spiritual, dan moral harus terintegrasi dengan prinsip HAM yang bersifat universal dan tidak dapat dikurangi dalam kondisi apa pun.


“Pendidikan karakter harus berjalan seiring dengan penghormatan terhadap hak asasi setiap orang. Pembentukan pribadi yang utuh dan berakhlak tidak bisa dilepaskan dari penghargaan terhadap martabat manusia,” ujar Hasbullah.


Sebagaimana diketahui, konsep pendidikan karakter Pancawaluya digagas oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sebagai bagian dari penguatan kearifan lokal Sunda. Program ini bertujuan membentuk Manusa Waluya—manusia yang sehat dan paripurna—melalui lima pilar utama: Cageur (sehat), Bageur (baik), Bener (jujur), Pinter (cerdas), dan Singer (terampil). Pendidikan ini menekankan pembentukan integritas, disiplin, dan tanggung jawab peserta didik.


Dalam kesempatan tersebut, Kepala Bidang Instrumen dan Penguatan HAM turut memberikan materi mengenai pengertian HAM sebagai hak dasar yang melekat pada setiap manusia, prinsip universalitas dan non-diskriminasi, serta dasar hukum HAM di Indonesia. Materi juga menyoroti hak dan kewajiban siswa di lingkungan pendidikan, pentingnya sikap saling menghormati, serta pencegahan perundungan dan diskriminasi sebagai bagian dari implementasi nilai HAM di sekolah.


Kegiatan berlangsung secara dialogis dan edukatif, dengan penekanan pada pentingnya toleransi, tanggung jawab sosial, serta penggunaan media sosial secara bijak. Para siswa diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari.


Melalui sinergi antara pendidikan karakter dan penguatan HAM, pemerintah berharap generasi muda Jawa Barat dapat tumbuh sebagai pribadi yang berintegritas dan siap menyongsong visi Indonesia Emas 2045.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *