Lestarikan Warisan Leluhur, Bupati Lutra Hadiri Ritual Adat Maggawe Samampa di Kompleks Makam Datuk Pattimang

0
IMG_20260217_200755.jpg

Luwu Utara — Melestarikan warisan leluhur adalah bagian dari upaya menjaga eksistensi nilai-nilai sejarah, adat, dan budaya Tana Luwu.

Upaya ini juga menjadi penegasan atas komitmen Pemerintah Kabupaten Luwu Utara untuk hadir dalam kegiatan bernuansa adat dan budaya.

Sekaligus sebagai jembatan masa lalu dan masa kini, seperti saat Bupati Andi Rahim menghadiri ritual adat tahunan, “Maggawe Samampa”, yang dilaksanakan Lembaga Adat La Pattiware’ Desa Pattimang, Senin (16/2/2026), di Kompleks Makam Datuk Pattimang, Malangke.

Kehadiran Bupati Andi Rahim dalam kegiatan yang begitu sakral ini membuat antusiasme warga makin meningkat. Mengingat kehadiran orang nomor satu di Kabupaten Luwu Utara ini sangat dinantikan warga setempat.

Apalagi diketahui sosok Bupati yang satu ini memiliki semangat yang begitu tinggi dalam melestarikan warisan leluhur yang sudah mengakar dari generasi ke generasi.

Diketahui, ritual adat “Maggawe Samampa” ini sudah dilaksanakan sejak 1603 M. Berarti kegiatan ini sudah berjalan selama 423 tahun lampau, dan bertahan hingga kini.

Kendati demikian, dahulu kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka menyambut bulan Ramadan ini belum disebut “Maggawe Samampa”, tetapi “Makkasiwiang” atau Maseddi-seddi, yang mulai dilakukan sejak Islam masuk di Tana Luwu melalui seorang ulama yang berasal dari Minangkabau, Dato’ Sulaiman, yang kemudian dikenal sebagai Datuk Pattimang.

Kemudian, sejak 20 tahun lalu, ritual adat ini mulai dikenal dengan nama “Maggawe Samampa”, dan dilaksanakan tiga hari secara konsekutif, dan hari ketiga adalah puncaknya yang dilakukan secara meriah.

“Terima kasih kepada Cenning Luwu yang sudah hadir membersamai kita di Kompleks Makam Datuk Pattimang ini untuk menyaksikan bagaimana masyarakat begitu antusias dengan kegiatan yang sudah rutin dilaksanakan selama ratusan tahun yang lalu ini,” ucap Bupati Andi Rahim saat memberikan sambutannya di hadapan tokoh adat dari Istana Kedatuan Luwu, serta masyarakat desa yang hadir memadati lokasi kompleks makam Datuk Pattimang.

Bupati Andi Rahim mengatakan, kegiatan ini adalah warisan para leluhur yang wajib dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat.

“Ini merupakan warisan leluhur kita yang sudah harus kita jaga dan kita jadikan sebagai sebuah kekuatan dalam masyarakat kita. Kita berharap, semua kita ini dapat menjaga nilai-nilai luhur dan kebiasaan-kebiasaan baik yang berkembang di tengah-tengah masyarakat kita,” harap Bupati Andi Abdullah Rahim.

Menurutnya, antara adat dan agama, tidak boleh saling melemahkan. Malah yang ada, harus saling menguatkan. “Dalam Islam, ada yang namanya kebiasaan yang diambil dari kebiasaan-kebiasaan baik yang berkembang di dalam masyarakat kita,” jelasnya.

Lanjut Bupati mengatakan bahwa kegiatan “Maggawe Samampa” yang dilaksanakaan warga desa Pattimang adalah sebuah adat dan budaya yang membuktikan kekuatan dan kebersamaan warga, khususnya yang beragama Islam, dalam menyambut bulan suci Ramadan, bulan penuh berkah dan ampunan Allah SWT.

“Hari ini, kita melihat warga bersama-sama, berkumpul, bersilaturahmi, dan saling berbagi. Ini membuktikan bahwa kita ini adalah bagian yang kuat dari sisi kebersamaan dan kekompakan dalam menyambut bulan suci Ramadan yang sudah dekat,” imbuhnya.
Tak hanya itu, kegiatan “Maggawe Samampa” juga menjadi momentum bagi seluruh masyarakat Luwu Utara untuk kembali mengingat dan mengenang sejarah masuknya Islam di wilayah Tana Luwu.

“Kegiatan ini juga sebagai momentum bagi kita semua untuk kembali mengingat sejarah dan kejayaan Islam di Tana Luwu ini, yang telah memberikan banyak kebaikan di seluruh wilayah. Bukan hanya di Tana Luwu, tetapi juga di jazirah Sulawesi Selatan. Bahkan sampai di Kalimantan dan negara tetangga kita,” terang Bupati Andi Rahim, yang juga alumnus Unhas ini.

Sementara itu, Maddika Bua, Andi Kaddiraja, yang hadir sebagai perwakilan dari Istana Kedatuan, menyambut baik ritual adat “Maggawe Samampa” ini.

“Terima kasih atas acara yang kita gelar hari ini. Ini sungguh luar biasa menurut kami dari Kedatuan Luwu. Karena ini swadaya masyarakat, dan jarang sekali dijumpai di daerah lain ada yang seperti ini. Mewakili Kedatuan Luwu, kami menyampaikan permohonan maaf jika ada langkah-langkah dan kata-kata dari kami yang tidak berkenan selama dimulainya acara sejak tadi malam sampai hari ini,” tandasnya.

Sekadar diketahui, dalam kegiatan “Maggawe Samampa”, Bupati Andi Abdullah Rahim bersama rombongan, serta dari Istana Kedatuan Luwu melakukan ziarah ke makam Datuk Pattimang dan La Pattiware’ untuk memanjatkan doa kepada dua tokoh berpengaruh di Tana Luwu tersebut.

Dari ziarah, rombongan kemudian diarahkan ke Baruga Kompleks Makam Datuk Pattimang. Di mana dalam baruga sudah siap hidangan makanan untuk disantap oleh para tamu undangan yang hadir. Sementara di pelataran kompleks makam, ratusan warga juga sudah siap dengan hidangannya.

Kegiatan “Maggawe Samampa” tahun ini berlangsung sangat meriah. Bukti kemeriahan dari acara ini adalah kehadiran Dewan Adat 12 dari Istana Kedatuan Luwu, di antaranya Maddika Bua Andi Kaddiraja, dan Makole Baebunta Andi Syarifah Muhaeminah.

Kehadiran tokoh adat lainnya, seperti Arung Malangke Andi Takdir dan Tomakaka Masamba Aidar Idrus makin menambah kemeriahan kegiatan ini.

Dari pihak pemda sendiri, hadir beberapa pejabat, di antaranya Asisten I Akram Risa, Kepala Bakesbangpol Hakim Bukara, Kepala Disporapar Saleh, Camat Malangke Andi Mansyur, dan Kades Pattimang. Hadir pula Anggota DPRD Andi Abriani, Ketua TP-PKK Minaswati, serta Pengurus Lembaga Adat Desa Pattimang. (LHr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *