Sembuhkan Bumi secara Inklusif, Kelompok Disabilitas Luwu Pimpin Aksi Nyata Mitigasi Iklim

0
IMG-20260624-WA0004.jpg

LUWU – Krisis iklim global memberikan dampak berlapis bagi kelompok rentan, terutama penyandang disabilitas yang kerap menghadapi keterbatasan aksesibilitas saat bencana ekologis terjadi.

Menjawab tantangan tersebut, kelompok disabilitas di Provinsi Sulawesi Selatan membuktikan bahwa mereka bukan sekadar objek terdampak, melainkan aktor aktif yang berdiri di garis depan dalam penyelamatan lingkungan.

Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, maka dilakukan sebuah aksi kolaboratif yang bertajuk “Aksi Nyata Disabilitas untuk Iklim” yang digelar di Dusun Tamara, Desa Malela, Kecamatan Suli, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, Sabtu (20/6/2026).

Aksi ini diinisiasi oleh koalisi Organisasi Masyarakat Sipil (OMS), DPD Perhimpunan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Sulsel dan Luwu, akademisi, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Latimojong, serta Dewan Kehutanan Nasional (DKN).

Rangkaian acara dikemas dalam bentuk diskusi parapihak, penyerahan bibit, hingga aksi simbolis penanaman 100 pohon di lahan disabilitas dan bantaran Sungai Suso.

Diskusi digelar secara inklusif dan membumi dalam format lesehan di pelataran rumah warga. Langkah ini mendapat apresiasi tinggi dari Ketua Kamar Masyarakat Dewan Kehutanan Nasional (DKN), Dr. Abdul Rahman Nur, S.H., M.H.

“Saya salut dengan penggagas kegiatan ini. Kita tidak sekadar bercerita di forum nyaman atau hotel mewah, melainkan langsung turun ke lokasi yang pernah terdampak bencana, berdiskusi dengan teman-teman disabilitas dan para pemangku kepentingan,” kata Abdul Rahman.

“Diskusi ini menjadi sangat menarik karena langsung melahirkan aksi nyata,” sambung Abdul Rahman yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor IV Universitas Andi Djemma, sekaligus pendiri Wanua Nusantara Lestari.

Ia berharap inisiatif di Desa Malela ini menjadi pemantik gerakan yang lebih besar. “Kita berharap embrio gerakan dari Luwu ini terus bergerak ke desa-desa lain untuk menjaga lingkungan dan Daerah Aliran Sungai (DAS),” harapnya.

“Target penting ke depan adalah mewujudkan kebun bibit mandiri yang dikelola langsung oleh organisasi disabilitas di tingkat desa dan kabupaten,” tandasnya.

Sementara Koordinator Wilayah 5 DPD PPDI Sulsel, Basri Andang, yang juga turut hadir sebagai pemantik diskusi menegaskan bahwa keterlibatan aktif ini adalah bentuk perjuangan merebut keadilan iklim bagi kelompok disabilitas.

“Aksesibilitas yang terbatas sering kali membuat teman-teman disabilitas menjadi pihak paling rentan saat terjadi bencana. Hari ini, kami menunjukkan bahwa kami siap berdiri di garis depan untuk menanam, merawat, dan menyuarakan keadilan iklim,” tegas Basri, yang juga Ketua Wanua Nusantara Lestari.

Menurutnya, forum kolaboratif ini sangat strategis untuk menjembatani perspektif akademisi, praktisi lingkungan, pemerintah, swasta, dan komunitas disabilitas.

Tujuannya adalah memetakan solusi atas ketimpangan edukasi, pemberdayaan, serta akses informasi terkait krisis iklim yang selama ini dialami kelompok disabilitas.
Aksi penanaman pohon ini juga menjadi jawaban langsung atas kecemasan warga Desa Malela. Kepala Desa Malela, Muharram, menyatakan dukungan penuhnya atas keterlibatan warganya yang menyandang disabilitas.

Ia mengungkapkan bahwa Desa Malela saat ini tengah menghadapi ancaman erosi tebing sungai sepanjang 3 kilometer akibat dampak banjir bandang yang lalu.

“Erosi ini sangat masif, bahkan membuat bentangan jembatan gantung warga melebar dari 60 meter menjadi 100 meter karena tebingnya terkikis. Akibatnya, akses utama petani menuju lahan pertanian mereka sempat terputus,” ungkap Muharram.

Sebagai langkah mitigasi jangka panjang, ia merencanakan gerakan penanaman besar-besaran di sepanjang tebing sungai menggunakan vegetasi berakar kuat.

“Ke depan, kami akan menanam pohon enau (aren) atau bambu langsung di bagian bawah pinggir tebing sungai sebagai pagar alami penahan erosi,” terangnya.

Sebagai penutup rangkaian acara, dilakukan penyerahan bibit tanaman secara simbolis oleh Kepala KPH Latimojong, Ir. Hasrul, M.Si., kepada Ketua PPDI Luwu, Bakhtiar, serta Yusri, salah seorang perwakilan penyandang disabilitas Desa Malela.

Acara ini kemudian diakhiri dengan gotong royong penanaman bibit di kebun disabilitas dan sepanjang pinggir Sungai Suso oleh seluruh parapihak yang hadir. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *